Pages

Rabu, 11 Januari 2012

Baca Garis Tangan Di Radio?

Tidak ada yang tidak mungkin!” Itu kata-kata yang paling sering diucapkan bos saya dulu. Maka ketika salah seorang penyiar tamu di radio kami dulu ternyata punya kemampuan membaca garis tangan (Palm Reading), si bos pun menantangnya untuk membuat acara pembacaan garis tangan di radio. Pertanyaan pun bermunculan. Bagaimana caranya? Radio kan media audio. Satu-satunya cara yang terpikirkan adalah dengan mengundang orang yang ingin dibaca garis tangannya ke radio. Tapi si bos menilai cara itu tidak efektif. Dia punya ide lain yang saat itu saya anggap sinting. Mau tahu caranya? Baca terus..
“Suruh pendengar untuk memfotokopi telapak tangannya dan kirim ke sini! Mau lewat surat kek, fax kek, terserah!” Itu titah si bos yang langsung disambut gerendengan kami, bahkan ada yang berusaha menahan tawa. Kenapa?
Pertama, cuma orang bermuka tebal yang mau datang ke tukang fotokopi dan bilang “Mas, tolong fotokopi tangan saya dua kali ya..”
Kedua, kalaupun ada yang nekat, apa hasilnya jelas? Apa garis tangannya bisa ikut terfoto kopi? Lantas apakah bisa ‘dibaca.?
Kamipun mencoba memfotokopi telapak tangan sendiri. Di mesin fotokopi kantor lah pastinya, dan kami perlihatkan pada si kawan yang jago baca garis tangan itu. Menurutnya ada garis-garis halus yang susah ‘dibaca’ nya. Tapi secara umum, garis-garis utamanya masih nampak dan bisa ia ‘baca’. Masalah kedua terselesaikan. Tapi bagaimana dengan masalah pertama?
Setelah kami umumkan, di luar dugaan, ada pendengar yang mengirim fotokopi. Entah bagaimana caranya. Mungkin mencuri-curi fotokopi di kantor ketika semua orang sudah pulang. :) Acara itu menjadi terkenal. Hampir setiap hari kami menerima kiriman fotokopi telapak tangan orang, bahkan tidak sedikit yang dikirim melalui fax. Kalau hasilnya tidak jelas, maka si pembawa acara akan bilang apa adanya dan biasanya si pendengar akan mengirim ulang.
Gilanya, tidak sedikit pendengar yang benar-benar datang ke tukang fotokopi dan minta agar tangannya di fotokopi dan setelah itu diantarnya ke warnet untuk di fax. Saya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kemaluan mereka.. eh.. maksudnya ‘kenekatan’  mereka untuk malu.
Lebih gila lagi karena sadar atau tidak, ternyata kenekatan itu tanpa disadari menjadi sarana promosi yang ampuh. Ketika si tukang fotokopi atau penjaga warnet atau orang yang kebetulan melihat keanehan itu bertanya, maka dijelaskanlah bahwa ini untuk acara pembacaan garis tangan di radio. Getok tular pun terjadi. Informasi menyebar dari mulut ke mulut, bahkan saya pernah melihat sendiri ada orang yang memfotokopi tangannya di sebuah warung fotokopi dan benar dugaan saya, baik si tukang fotokopi maupun orang lain yang melihat jadi bertanya-tanya. Waktu saya tanya, dia bilang ini untuk acara di radio saya. Ramai lah orang yang ada di situ memfotokopi telapak tangannya dan dititip ke saya.. hahaha..
Bos saya benar. Tidak ada yang tidak mungkin! Jalan kalau dicari pasti ada. Rasanya saya belum pernah dengar ada radio yang punya acara pembacaan garis tangan atau palmistry. Dan acara itu bisa sukses besar karena ide sederhana yang kadang jadi tak terpikirkan saking sederhananya. Maklum, kita terbiasa berpikir yang rumit-rumit..
hand.jpgCoba sekarang acara itu masih ada, mungkin bukan lagi fotokopi yang digunakan melainkan scanner. Saya yakin hasilnya lebih bagus. Iseng-iseng saya coba lakukan dan ya.. terbukti! Hasilnya jauh lebih bagus, bisa dikirim melalui email lagi. Hayo, ada yang mau mencoba acara seperti ini di radionya? Dijamin laku karena harus diakui, hal-hal seperti ini masih menarik buat orang lain. Siapa sih yang tidak ingin nasib dan peruntungannya dilihat, walaupun itu belum tentu benar.. :)

0 komentar:

Posting Komentar